Friday, March 1, 2013

Hasil Penelitian Pengaruh Media Tanah Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Kacang Hijau



BAB I PENDAHULUAN


     1.1               LATAR BELAKANG MASALAH

Dalam perkecambahan, biji selalu mengalami pertumbuhan dan mengalami perkembangan. Pertumbuhan adalah proses kenaikan volume karena adanya penambahan substansi (bahan dasar) yang bersifat irreversibel (tidak dapat kembali). Sedangkan, perkembangan adalah proses menuju tercapainya kedewasaan yang tidak dapat diukur. Pertumbuhan dalam suatu perkecambahan biji dapat langsung diukur apabila tunasnya sudah keluar dan tumbuh. Sama halnya dengan pertumbuhan, perkembangan juga dapat dilihat dari tunas/awal, hanya saja tidak diukur melainkan melihat apa saja struktur tubuh kecambah yang mulai ada dari awal/tunas. Seperti pada awalnya, berkembang batang, akar, dan sebagainya.
Pertumbuhan dan perkembangan suatu kecambah biji akan selalu berbeda-beda tergantung media tanam yang dipakai dan unsur-unsur yang terdapat dalam media tanam tersebut.Media tanam merupakan media/tempat dimana tanaman/biji dapat tumbuh dan berkembang didalamnya. Contohnya seperti tanah, air, kapas, dan sejenis lainnya. Saat ini, di kehidupan sehari-hari atau dalam perkebunan, tanah selalu menjadi media tanam bagi benih yang akan ditanam. Tapi, dalam kegiatan penelitian, siswa-siswi selalu memakai kapas untuk perkecambahan biji mereka. Sedangkan, media tanam yang menggunakan air biasanya dikhususkan untuk tumbuhan hidroponik.Dalam hal ini, dapat terlihat bahwa kegunaan  antara berbagai media tanam itu berbeda-beda. Tidak hanya kegunaannya saja tapi pengaruhnya terhadap perkecambahan suatu biji. Pengaruh tersebut dapat disebabkan karena setiap media tanam mengandung unsur-unsur dan struktur yang berbeda-beda.







1       1.2   Rumusan Masalah
Adapun beberapa permasalahan yang akan dibahas dalam laporan ini adalah:
1.    Apakah media agar-agar adalah media yang tebaik untuk pertumbuhan dan perkembangan  tanaman kacang hijau?

1.3    Tujuan Penelitiian
1.    Melakukan penelitian pertumbuhan dan perkembangan tanaman kacang hijau.
2.    Mengetahui pengaruh berbagai media tanam (tanah,agar-agar,kapas,debu) terhadap kecepatan pertumbuhan dan perkembangan tanaman kacang hijau.

 1.4  Manfaat Penelitian
1.    Mampu memilih media tanam yang sesuai bagi tumbuhan
2.    Mengetahui pengaruh media tanam terhadap laju pertumbuhan kacang hijau
3.    Mengetahui factor apa saja yang membedakan media tanam

                     










BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Dasar Teori
2.1.1             Teori mengenai Media Tanam
Banyak media tanam yang bisa dipilih untuk tanaman kita. Meskipun begitu, sebagian besar kegiatan pertanian dan pertamanan sampai saat ini masih bergantung kepada tanah. Mahluk-mahluk hidup di dalam tanah membantu memecah materi sisa tumbuhan dan bangkai hewan menjadi zat hara, yang kemudian diserap oleh akar tumbuhan. Jarang sekali kegiatan pertanian memakai media kapas, terkecuali para siswa yang akan melakukan penelitian biologi.
Dalam media tanam / tumbuh, tanah memiliki peran yang penting di bidang pertanian maupun perkebunan. Sebelumnya, dijelaskan terlebih dahulu, sifat fisik tanah dan apa saja yang terkandung dalam tanah sehingga menyebabkan tanah sering dipakai sebagai media tanam:

2.1.1.1       Tanah
1.      Profil tanah
Jika tanah digali sampai kedalaman tertentu, dari penampung vertikalnya dapat dilihat gradasi warna yang membentuk lapisan-lapisan (horison) atau biasa disebut profil tanah. Di tanah hutan yang dusah matang terdapat tiga horison penting yaitu horison A, B dan C.
a. Horison A atau top soil adalah lapisan tanah paling atas yang paling sering dan paling mudah dipengaruhi oleh faktor iklim dan faktor biologis. Pada lapisan ini sebagian besar bahan organik terkumpul dan mengalami pembusukan.
b.  Horison B disebutkan juga dengan zona penumpukan ( illuvation zone ). Horizon ini memiliki bahan organik yang lebih sedikit tetapi lebih banyak mengandung unsur yang tercuci daripada horizon A.
c. Horizon C adalah zona yang terdiri dari batuan terlapuk yang merupakan bagian dari batuan induk.
2.  Warna tanah
Warna adalah petunjuk untuk beberapa sifat tanah. Biasanya perbedaan warna permukaan tanah disebabkan oleh perbedaan kandungan bahan organik. Semakin gelap warna semakin tinggi kandungan bahan organiknya. Warna tanah dilapisan bawah yang kandungan bahan organik rendah lebih banyak dipengaruhi oleh jumlah kandungan dan bentuk senyawa besi (Fe). Didaerah yang mempunyai sistem darinase (serapan air) buruk, warna tanahnya abu-abu karena ion besi yang terdapat didalam tanah berbentuk Fe 2+
3.  Tekstur tanah
Komponen mineral dalam tanah terdiri dari campuran partikel-partikel yang secara individu berbeda ukurannya. Menurut ukuran partikelnya, komponen mineral dalam tanah dapat dibedakan menjadi tiga yaitu :
  1. Pasir, berukuran 50 mikron – 2 mm
  2. Debu, berukuran 2-50 mikron
  3. Liat, berukuran dibawah 2 mikron
Tanah bertekstur pasir sangat mudah diolah, tanah jenis ini memiliki aerasi (ketersediaan rongga udara) dan drainase yang baik, namun memiliki luas permukaan kumulatif yang relatif kecil, sehingga kemampuan menyimpan air sangat rendah atau tanahnya lebih cepat kering.
Tabel 2.1. Perbandingan hara yang terdapat dalam jenis tekstur tanah
Jenis Tekstur
P
K
Ca
Fe2O3
MgO
Pasir
0,08
2,53
2,92
5,19
1,02
Debu
0,10
3,44
6,58
9,42
2,22
Tekstur tanah sangat berpengaruh pada proses pemupukan, terutama jika pupuk diberikan lewat tanah, pemupukan pada tanah bertekstur pasir tentunya berbeda dengan tanah bertekstur lempung atau liat, tanah bertekstur pasir memerlukan pupuk lebih besar karena unsur hara yang tersedia pada tanah berpasir lebih rendah. Disamping itu aplikasi pemupukan juga berbeda karena pada tanah berpasir pupuk tidak bisa diberikan sekaligus karena akan segera hilang terbawa air atau menguap.

2.1.1.2       Kapas
Kapas memiliki struktur kapas yang lembut, dan juga memiliki daya serap air yang rendah. Sehingga, media tanam dengan kapas dapat terjaga kelembabannya, dan juga memiliki persediaan air dalam jangka waktu yang lama.
Kapas (dari bahasa Hindi kapas, sendirinya dari bahasa Sanskertakarpasa) adalah serat halus yang menyelubungi biji beberapa jenis Gossypium (biasa disebut "pohon"/tanaman kapas), tumbuhan 'semak' yang berasal dari daerah tropika dan subtropika. Serat kapas menjadi bahan penting dalam industri tekstil. Serat itu dapat dipintal menjadi benang dan ditenun menjadi kain. Produk tekstil dari serat kapas biasa disebut sebagai katun (benang maupun kainnya).
Serat kapas merupakan produk yang berharga karena hanya sekitar 10% dari berat kotor (bruto) produk hilang dalam pemrosesan. Apabila lemak, protein, malam (lilin), dan lain-lain residu disingkirkan, sisanya adalah polimerselulosa murni dan alami. Selulosa ini tersusun sedemikian rupa sehingga memberikan kapas kekuatan, daya tahan (durabilitas), dan daya serap yang unik namun disukai orang. Tekstil yang terbuat dari kapas (katun) bersifat menghangatkan di kala dingin dan menyejukkan di kala panas (menyerap keringat).
Sifat-sifat Kimia Kapas
Oleh karena kapas sebagian besar tersusun atas selulosa maka sifat-sifat kmia kapas adalah sifat-sifat kimia selulosa.
Serat kapas pada umumnya tahan terhadap kondisi penyimpanan, pengolahan, dan pemakaian yang normal, tetapi beberapa zat pengoksidasi atau penghidrolisa menyebabkan kerusakan dengan akibat penurunan kekuatan. Kerusakan karena oksidasi dengan terbentuknya oksi selulosa biasanya terjadi dalam proses pemutihan yang berlebihan, penyinaran dalam keadaan lembab, atau pemanasan yang lama dalam suhu diatas 1400C.
Asam-asam menyebabkan hidrolisa ikatan-ikatan glukosa, dalam rental selulosa membentuk hidroselulosa. Asam kuat dalam larutan menyebabkan degradasi yang cepat, sedangkan larutan yang encer apabila dibiarkan mongering pada serat akan menyebabkan penurunan kekuatan. Alkali mempunyai sedikit pengaruh pada kapas, kecuali larutan alkali kuat dengan konsentrasi yang tinggi menyebabkan penggelembungan yang besar pada serat, seperti dalam proses mempercerisasi. Dalam proses ini kapas dikerjakan di dalam larutan natrium hidroksida dengan konsentrasi lebih besar dari 18%.
Dalam kondisi ini dinding primer menahan penggelumbungan serat kapas keluar, sehingga lumenya sebagian tertutup. Irisan lintang menjadi lebih bulat, puntirannya berkurang dan serat menjadi lebih berkilau. Hal ini merupakan alasan uitama mengapa dilakukan proses mencerisasi. Disamping itu serat kapas menjadi lebih kuat dan afinitas terhadap zat warna lebih besar.
Pelarut-pelarut yang biasa dipergunakan untuk kapas adalah kupramonium hidroksida dan kuprietilena diamina. Viskositas larutan kapas dalam pelarut-pelarut ini merupakan faktor yang baik untuk memperkirakan kerusakan serat. Kapas mudah diserang oleh jamur dan bakteri, terutama pada keadaan lembab dan pada suhu yang hangat.
Akhir-akhir ini banyak dilakukan modifikasi secara ilmiah mempergunakan zat-zat kimia tertentu untuk memperbaiki sifat-sifat kapas, misalnya stabilitas dimensi, tahan kusut, tahan air, tahan api, tahan jamur, tahan kotoran dan sebagainya.

2.1.1.3       Agar-Agar
Agar-agar, agar atau agarosa adalah zat yang biasanya berupa gel yang diolah dari rumput laut atau alga. Di (Jepang) dikenal dengan nama kanten dan oleh orang Sunda disebut lengkong. Jenis rumput laut yang biasa diolah untuk keperluan ini adalah Eucheuma spinosum (Rhodophycophyta). Beberapa jenis rumput laut dari golongan Phaeophycophyta (Gracilaria dan Gelidium) juga dapat dipakai sebagai sumber agar-agar. Agar-agar dieksport dari Melaka sejak 1871.[1]
Struktur dan karakteristik : Agar-agar sebenarnya adalah karbohidrat dengan berat molekul tinggi yang mengisi dinding sel rumput laut. Ia tergolong kelompok pektin dan merupakan suatu polimer yang tersusun dari monomer galaktosa. Agar-agar dapat dibentuk sebagai bubuk dan diperjualbelikan.
Gel terbentuk karena pada saat dipanaskan di air, molekul agar-agar dan air bergerak bebas. Ketika didinginkan, molekul-molekul agar-agar mulai saling merapat, memadat dan membentuk kisi-kisi yang mengurung molekul-molekul air, sehingga terbentuk sistem koloid padat—cair. Kisi-kisi ini dimanfaatkan dalam elektroforesis gel agarosa untuk menghambat pergerakan molekul obyek akibat perbedaan tegangan antara dua kutub. Kepadatan gel agar-agar juga cukup kuat untuk menyangga tumbuhan kecil sehingga sangat sering dipakai sebagai media dalam kultur jaringan.
Histeresis : Histeresis adalah gejala yang dimiliki oleh agar-agar dan sejumlah bahan gel lainnya, yang berhubungan dengan suhu transisi fase padat-cair. Agar-agar mulai mencair pada suhu 85 °C dan mulai memadat pada suhu 32-40 °C. Jadi tidak seperti air yang memadat dan mencair pada titik suhu yang sama.
Kegunaan : Apabila dilarutkan dalam air panas dan didinginkan, agar-agar bersifat seperti gelatin: padatan lunak dengan banyak pori-pori di dalamnya sehingga bertekstur 'kenyal'. Sifat ini menarik secara inderawi sehingga banyak olahan makanan melibatkan agar-agar: pengental sup, puding (jelly), campuran es krim, anmitsu (di Jepang),
Agar-agar dikenal luas di daerah Asia Tropika sebagai makanan sehat karena mengandung serat (fiber) lunak yang tinggi dan kalori yang rendah. Kandungan serat lunak yang tinggi membantu melancarkan pembuangan sisa-sisa makanan di usus (laksatif).
Selain digunakan sebagai makanan, agar-agar juga digunakan secara luas di laboratorium sebagai pemadat kemikalia dalam percobaan, media tumbuh untuk kultur jaringan tumbuhan dan biakan mikroba, dan juga sebagai fase diam dalam elektroforesis gel. Di laboratorium, agar-agar (biasanya dikemas dalam bentuk bubuk) dikenal sebagai agar atau agarosa saja.
Media tanam jelly yang kami pakai terbuat dari agar-agar, dan diolah sedemikian rupa sehingga berbentuk padat, dan jika direndam air jelly ini akan menyerap air dan mengembang.

2.1.2Kajian dan Hasil Penelitian

Setiap media tanam selalu memiliki daya intermolekul (tenaga listrik pada molekul-molekul media tumbuh) yang berbeda-beda. Apabila, molekul-molekulnya rapat maka air akan sulit diresap oleh biji tersebut. Sedangkan, apabila molekul-molekulnya renggang maka air akan mudah diresap oleh biji tersebut. Jadi, daya intermolekul itu berbanding terbalik dengan kecepatan penyerapan air. Sehingga, perkecambahan dapat terpengaruh oleh daya intermolekul suatu media tanam.
Selanjutnya, setiap media tanam selalu memiliki tekstur yang berbeda-beda. Apabila, media tanam tersebut bertekstur pasir maka media itu mudah untuk diolah, media jenis ini memiliki aerasi (ketersediaan rongga udara) dan drainase yang baik, namun memiliki luas permukaan komulatif yang relatif kecil, sehingga kemampuan menyimpan air sangat rendah dan media tersebut lebih cepat kering. Yang kemudian, kecambah biji akan sulit bertumbuh karena kekurangan air.
Tidak hanya tekstur dan daya intermolekul yang dapat mempengaruhi perkecambahan, tetapi juga kandungan-kandungan unsur yang ada dalam media tanam tersebut. Kandungan unsur-unsur itu ada yang dapat mempercepat pertumbuhan dan juga memperhambat pertumbuhan. Tapi, kebanyakan unsur-unsurnya dapat membantu biji dalam perkecambahan.

2.1.3    Hipotesis :
            Media tanam yang terbaik untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman kacang hijau adalah agar-agar.






BAB III
BAHAN DAN METODE PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan
Alat :
1.        Tempat media tanam
2.        Alat untuk menyiram tanaman
3.        Penggaris
4.        Lidi yang sudah diberi ukuran
5.        Alat tulis
6.        Stopwatch

Bahan :
1.        40 Biji kacang hijau (@10biji)
2.        Kapas  94,5 cm³
3.        Agar-agar 94,5 cm³
4.        Jelly  94,5 cm³
5.        Tanah 94,5 cm³


3.2 Langkah Kerja
1.        Menyiapkan alat-alat dan bahan-bahan yang diperlukan.
2.        Memasukkan tanah, agar-agar, jelly, dan kapas ke dalam media tanam dengan jumlah yang  sama.
3.        Menanam 10biji kacang hijau ke dalam masing-masing media tanam.
4.        Mengamati perkecambahan biji dengan interval 48 jam atau 2 hari sekali.
5.        Mencatat hasil pengamatan ke dalam tabel pengamatan.
6.        Menganalisis hasil penelitan dengan cara mengolah data.







BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Variabel
Variabel dan Definisi Operasional Variabel
Variabel merupakan faktor yang berpengaruh dan memiliki nilai (ukuran tertentu) serta dapat berubah atau diubah. Oleh karena itu, variabel sering diebut faktor ubah atau faktor penentu. Variabel yang dilibatkan dalam penelitian ini ada 3 macam, yaitu sebagai berikut
  • Variabel bebas:
Media tanam untuk perkecambahan biji Kacang Hijau
  • Variabel kontrol:
Jenis biji Kacang Hijau, air untuk penyiraman, volume air, tempat untuk media tanam beserta kecambah
  • Variabel terikat / respon:
Kecepatan pertumbuhan batang dan jumlah daun pada tumbuhan kacang hijau.

4.2 Pengujian Hipotesis
Penelitian mengenai pengaruh media tanam terhadap suatu perkecambahan ini, dapat diketahui bahwa daya intermolekul dan tekstur setiap media tanam berbeda. Hal itulah yang membuat pengaruh terhadap perkecambahan. Jadi, rumusan hipotesis diterima karena sesuai dengan hasil penelitian.
Hipotesis mengatakan bahwa berbagai media tanam dapat berpengaruh terhadap kecepatan perkecambahan biji kacang hijau. Dalam menguji hipotesis, kita bisa melakukan pengamatan terhadap media tanam yang dipakai beberapa orang. Contoh, siswa dan insinyur pertanian. Kebanyakan siswa memilih kapas sebagai media tanam untuk penelitian kecambahnya. Sedangkan insinyur pertanian kebanyakan memeran pentingkan tanah dalam pertaniannya. Hal ini membuktikan bahwa terdapat perbedaan antara media tanah dan kapas yang kemudian mempengaruhi suatu perkecambahan, sehingga hipotesis ini dapat berlaku di kemudian hari.








4.3            Data Pengamatan  Panjang Batang Kacang Hijau
 Hasil pengamatan dari percobaan yang telah dilakukan selama 8 hari dengan media tanam yang berbeda yaitu:


Tabel 4.3.1. pot A (Kapas)
No.
Kecambah ke
Hari Pengamatan ke

2
4
6
8
1
1
-
-
-
-
2
2
-
-
-
-
3
3
-
-
-
-
4
4
-
-
-
-
5
5
-
12.5
17
25
6
6
-
-
-
-
7
7
-
-
-
-
8
8
-
-
-
-
9
9
-
-
-
-
10
10
-
-
-
-

Rata-rata
-
1.25
1,7
2,5


Tabel 4.3.2 pot B (Agar-agar)
No.
Kecambah ke
Hari Pengamatan ke


2
4
6
8

1
1
-
20
27
32
2
2
0.1
4.5
12
30
3
3
-
20
25.2
29
4
4
-
19
17
21
5
5
-
22
27.4
26
6
6
-
-
-
0.5
7
7
-
12
19
23.5
8
8
-
-
-
-
9
9
0,1
19
25
26.7
10
10
-
18
23
30

Rata-rata
0,02
13,45
17,56
21,87



Tabel 4.3.3 pot C (Tanah)
No.
Kecambah ke
Hari Pengamatan ke

2
4
6
8
1
1
0.1
11.5
15
21
2
2
-
-
0.3
0.4
3
3
-
1
1
1.7
4
4
-
-
-
0.2
5
5
0.2
10
21
27
6
6
-
8
17
0.5
7
7
0.1
1
0.7
29
8
8
0.1
20
24.2
31
9
9
0.1
0.5
1.5
4.5
10
10
-
-
0.1
0.2

Rata-rata
0,06
5,1
8,08
11,55

Tabel 4.3.4 pot D (Jelly)
No.
Kecambah ke
Hari Pengamatan ke


2
4
6
8
1
1
-
0.3
0.4
0.6
2
2
-
0.3
0.4
0.5
3
3
-
0.2
0.1
0.2
4
4
-
0.3
0.4
0.5
5
5
-
0.2
0.2
0.3
6
6
0.1
0.2
0.2
0.3
7
7
-
0.1
0.1
0.2
8
8
0.2
0.2
0.4
0.5
9
9
0.1
0.1
0.5
0.7
10
10
-
-
0.1
0.3

Rata-rata
0,04
0,19
0,28
0,41



4.4               Pembahasan
Media tanam yang akan digunakan harus disesuaikan dengan jenis tanaman yang ingin ditanam. Secara umum, media tanam harus dapat menjaga kelembaban daerah sekitar akar, menyediakan cukup udara, dan dapat menahan ketersediaan unsur hara.
Pada jenis tumbuhan tertentu seperti kacang hijau juga terdapat beberapa faktor penunjang dan pada laporan kami ini membahas salah satunya yaitu media tanam dan unsur hara yang terkandung didalamnya. Melalui kedua faktor tersebut kita dapat mengetahui skala pertumbuhan dari kacang hijau tersebut hingga menjadi kecambah akibat pengaruh dari kedua faktor tersebut.
Tumbuhan kacang hijau yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan paling cepat terdapat dalam medium agar-agar. Akar, batang, dan daunnya paling panjang diantara yang lainnya. Kondisi di atas berbanding terbalik dengan kondisi tanaman kacang hijau yang terdapat dalam kapas. Pada hari pertama pengukuran tanaman kacang hijau yang terdapat dalam kapas memang jauh lebih pendek daripada tanaman kacang hijau yang terdapat dalam medium agar-agar.
Pada media tanam kapas, di hari kedua( pengamatan pertama) belum ada biji kacang hijau yang mengalami perkecambahan. pada pengmatan selanjutnya, dari hari keempat (pengamatan kedua) hingga hari kedelapan (pengamatan keempat) hanya kecambah yang kelima yang menampakkan pertumbuhannya. Dan rata-rata pertumbuhan batang kecambah kacang hijau hingga pengamatan terakhir adalah sebesar 6,25cm.  Mungkin ini disebabkan oleh serat kapas pada umumnya tahan terhadap kondisi penyimpanan, pengolahan, dan pemakaian yang normal, tetapi beberapa zat pengoksidasi atau penghidrolisa menyebabkan kerusakan dengan akibat penurunan kekuatan. Kerusakan karena oksidasi dengan terbentuknya oksi selulosa biasanya terjadi dalam proses pemutihan yang berlebihan, penyinaran dalam keadaan lembab, atau pemanasan yang lama dalam suhu diatas 1400C .
Pada media tanam agar-agar, dihari kedua (pengamatan pertama) hanya biji kecambah yang pertama dan yang kesembilan yang menunjukkan adanya pertumbuhan dengan ukuran batang 0,1cm. Pada hari keempat(pengamatan kedua), hampir semua biji kacang hijau mengalami pertumbuhan yang pesat,kecuali pada kecambah yang keenam dan kedelapan. Dan setelah kami rata-ratakan sampai hari terakhir, kecambah pertama memiliki rata-rata tinggi batang sebesar 8cm, kecambah kedua memiliki rata-rata tinggi batang sebesar 7,5cm. Pada kecambah ketiga memiliki rata-rata tinggi sebesar 7,25cm. Pada kecambah keempat memiliki rata-rata tinggi sebesar 5,25cm. Pada kecambah kelima memiliki rata-rata tinggi sebesar 6,5cm. Pada kecambah keenam memiliki rata-rata tinggi sebesar 0,125cm. Pada kecambah ketujuh memiliki rata-rata tinggi sebesar 5,87cm. Pada kecambah kesembilan memiliki rata-rata tinggi sebesar 6,675cm. Pada kecambah kesepuluh memiliki rata-rata tinggi sebesar 7,5cm.
Pada media tanam tanah, dihari kedua (pengamatan pertama) ada setengah dari keseluruhan biji kecambah tumbuh. Dan pada pengamatan selanjutnya, setelah di rata-ratakan dari pengamatan pertama hingga akhir. Pada kecambah pertama memiliki rata-rata tinggi batang sebesar 5,25 cm, kecambah kedua memiliki rata-rata tinggi batang sebesar 0,1cm. Pada kecambah ketiga memiliki rata-rata tinggi sebesar 0,425cm. Pada kecambah keempat memiliki rata-rata tinggi sebesar 0,05cm. Pada kecambah kelima memiliki rata-rata tinggi sebesar 6,75cm. Pada kecambah keenam memiliki rata-rata tinggi sebesar 0,125cm. Pada kecambah ketujuh memiliki rata-rata tinggi sebesar 7,25cm. Pada kecambah kedelapan memiliki rata-rata tinggi batang sebesar 7,75cm. Pada kecambah kesembilan memiliki rata-rata tinggi batang sebesar memiliki rata-rata tinggi sebesar 1,125cm. Pada kecambah kesepuluh memiliki rata-rata tinggi sebesar 0,05cm.
Pada media tanam jelly, dihari kedua (pengamatan pertama) ada 3 dari keseluruhan biji kacang hijau yang tumbuh. Dan pada pengamatan selanjutnya, setelah di rata-ratakan dari pengamatan pertama hingga akhir. Pada kecambah pertama memiliki rata-rata tinggi batang sebesar 0.15 cm.Pada kecambah kedua memiliki rata-rata tinggi batang sebesar 0,125cm. Pada kecambah ketiga memiliki rata-rata tinggi sebesar 0,05cm. Pada kecambah keempat memiliki rata-rata tinggi sebesar 0,125cm. Pada kecambah kelima memiliki rata-rata tinggi sebesar 0,075cm. Pada kecambah keenam memiliki rata-rata tinggi sebesar 0,075cm. Pada kecambah ketujuh memiliki rata-rata tinggi sebesar 0,05cm. Pada kecambah kedelapan memiliki rata-rata tinggi batang sebesar 0,125cm. Pada kecambah kesembilan memiliki rata-rata tinggi batang sebesar memiliki rata-rata tinggi sebesar 0,175cm. Pada kecambah kesepuluh memiliki rata-rata tinggi sebesar 0,075cm.

Dari pengamatan yang telah dilakukan, dapat kita lihat bahwa laju pertumbuhan dan perkembangan kacang hijau tercepat yaitu pada media agar-agar, diikuti tanah kemudian jelly dan skala laju pertumbuhan dan perkembangan terkecil pada media tanam kapas karena mengalami masa dormasi yang terlalu lama.
Media agar-agar mengandung karbohidrat dengan berat molekul panjang yang mengisi dinding sel rumput laut. Ia tergolong kelompok pektin dan merupakan suatu polomer yang tersusun dari monomer galaktosa yang membantu pertumbuhan kecambah.
Media tanah keunggulannya adalah tanah mengandung unsur hara.
Media kapas, kapas memiliki molekul-molekul yang renggang sehingga biji kacang hijau dapat menyerap air dengan mudah, tetapi di karenakan kapas yang peneliti gunakan merupakan kapas yang teksturnya berserat, dan karena mungkin ada kerusakan pada tekstur kapas atau kapas telah terkontaminasi oleh zat-zat yang dapat menghambat pertumbuhan kacang hijau. Pada media kapas, kecambah hanya dapat menyerap air, sedangkan pada media lainnya kecambah hanya dapat menyerap air dan zat hara.
Media tanam jelly yang kami pakai terbuat dari agar-agar, dan diolah sedemikian rupa sehingga berbentuk padat, dan jika direndam air jelly ini akan menyerap air dan mengembang. Mungkin inilah alasan mengapa kecambah pada media jelly tumbuh lambat sekali dibanding media tanam lain kecuali kapas. Karna air yang diperlukan biji kacang hijau diserap oleh jelly.
Namun dikarenakan media agar-agar memilki tekstur yang lembut dan mengandung gizi yang lebih banyak dibandingkan media lainnya pada proses imbisi kecambah kacang hijau pada media agar-agar dapat tumbuh dengan pesat karena dapat menyerap air dan gizi sekaligus lebih mudah dan lebih banyak dibandingkan dengan media lainnya.
Setiap media yang berbeda pasti selalu memberikan pengaruh yang berbeda-beda terhadap suatu perkecambahan. Karena, setiap media tanam pasti memiliki daya intermolekul, tekstur, unsur, dan yang lainnya berbeda-beda.
Ada hal lain yang dapat kami amati dari percobaan ini yaitu kondisi kecambah yang kami tanam tumbuh tinggi tetapi tidak tumbuh dengan tegak. Hal ini dikarenakan tempat media tanam yang kami gunakan terlalu sempit dan rendah sehingga kecambah kacang hijau tumbuh tidak sempurna. Selain itu, kurangnya penyinaran sinar matahari membuat kecambah kami tumbuh tidak tegak dan pucat.







4.5 Analisis Data
Analisis data adalah cara mengolah data hasil penelitian sehingga membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukan. Pada penelitian ini, analisis data yang dapat dilakukan adalah:
1.        Mencari nilai rata-rata kecepatan perkecambahan biji Kacang Hijau pada tiap perlakuan
2.        Membandingkan hasil antara kecepatan perkecambahan biji kacang pada media satu dan media yang lain.


Setiap pot memiliki populasi 10 biji kacang hijau. Pengambilan data tinggi tanaman dilakukan setiap hari selama 8 hari untuk masing-masing pot.
Adapun cara kami menganalisis adalah dengan membandingkan pertumbuhan panjang batang kecambah setaip batangnya.
Berikut adalah hasil rata-rata pertumbuhan panjang kacang hijau setelah dilakukan penelitian selama 8 hari:


Grafik 4.5.1 pertumbuhan kacang hijau







BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.         Kesimpulan
Agar-agar adalah media tanam terbaik untuk perkecambahan kacang hijau
5.2.         Saran
Untuk para masyarakat yang ingin menanam kacang hijau atau sesuatu yang melalui proses perkecambahan untuk mendapatkn hasil yang terbaik kami sarankan untuk menggunakan agar-agar.





DAFTAR PUSTAKA
http://renirahmawatii.blogspot.com/2012/01/makalah-biologi-umum.html
http://hasil-penelitian-pengaruh-media-tanah.html
http://Agar-agar.htm
http://Pengaruh Berbagai Media Tanam Terhadap Kecepatan Perkecambahan Biji Kacang Hijau « Ghoziyah's Blog.htm
http://Pengaruh Media Tanam terhadap Perkembangan Tumbuhan _ byulovers.htm
http://smk3ae.wordpress.com/2008/08/25/mengenal-serat-kapas-cotton-fibre